

Beberapa orang kawan sempat berujar pd saya, kenapa saya tidak menulis sesuatu tentang telekomunikasi, kok malah nulis Yang “aneh-aneh”, pdhal saya sudah 11 thn bekerja di bidang telekomunikasi, mulai dari jadi tukang, bener bener tukang, panjat tower, kerjaan Yang lbh banyak fisik daripada otaknya, sampai ke radio optim, project management dan bisnisnya.
Baiklah, tulisan saya kali ini adalah utk menjawab protes rekan tersebut.
Pertama sekali, penduduk Indonesia Yang 240 juta itu adalah market Yang luar biasa bagi para operator telko. Meskipun penetration rate nya sudah mendekati 100%. Tp operator kecil pun bisa memiliki pelanggan 10 juta orang dengan mudah. Hal ini susah dilakukan di negara dengan penduduk Yang ordenya puluhan juta saja. Itulah makanya, perusahaan asing berbondong bondong masuk menjadi operator disini. Hampir semua operator di Indonesia dikuasai asing.
Beberapa contoh bagaimana gurihnya telco market di Indonesia adalah, Indosat (ISAT), Yang sebagian besar sahamnya dikuasai group Qatar Telecom ini, adalah penyumbang 30.08% (terbesar) EIBTDA utk perusahaan induknya. Wow…Ini operator no 3 lho. Sedangkan Excelcom (EXCL) adalah kontributor no 2 dalam sisi revenue utk AXIATA (no 1 Celcom Malaysia), hebatnya dari sisi EBITDA, EXCL adalah kontributor no 1 sebesar 48% ! Apa artinya ini, artinya margin laba EXCL lebih bagus drpd Celcom. Ga heran TELKOM (TLKM) ngebet banget buy back sahamnya Telkomsel dari Singtel. Salah ga sih…?
Ga, cm timingnya gak pas kalo sekarang. Singapore itu pinter, dia akan jual sahamnya dengan harga premium. Memang secara umum growth industri telekomunikasi di Indonesia sudah saturasi,pertumbuhan revenue dan laba utk TSEL dan TLKM induknya, serta ISAT sudah kecil. Tercermin jelas di harga saham TLKM dan ISAT, Yang gak kemana2, sideways. TLKM tertinggi di Rp 9300 bulan october 2010 sejak itu turun dan sideways, ga pernah tembus resisten 8000. Sedangkan IHSG sudah bergerak dari level 3500an ke tertinggi 4190an sebelum jatuh lagi ke level 3800 sekarang ini karena krisis utang zona Euro dan AS.
Singapore harus dikadali, misalnya dengan cara, 80% laba dibagikan sebagai dividen. Lakukan ini secara 2-3 thn berturut2. Yang paling untung toh pemerintah sbg pemegang saham terbesar. Capex dilakukan scr seselektif mungkin hanya utk mempertahankan pangsa pasar sbg no 1.
Perusahaan investasi cenderung fokus pada growth, begitu % dividen Yang dibagikan besar maka pengeluaran modal berkurang, otomatis growth perusahaan akan tertahan. Harga saham TLKM akan turun, TSEL akan berharga lebih murah. Begitu turun, beli. Tp pemerintah harus benar benar mendukung, negosiasi nya harus melibatkan daya tekan pemerintah. Kementerian Luar Negeri harus terlibat. Dengan demikian Indonesia dapat benefit terbesar. Jajaran direksi dan komisaris dirombak untuk mengamankan agenda ini secara halus. Intinya when there is a will there is a way….
Begitu saham TSEL ditangan, capex besar besaran dividen dikurangi utk ekspansi. Growth naik lagi, share holder happy, Indonesia untung, masyarakat senang. Apalagi dengan Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN saat ini, kemungkinan diatas bisa terjadi, atau malah Pak DIS punya trik Yang lebih jitu lagi. Siapa tahu ?
Yang memprihatinkan dari bisnis telekomunikasi di Indonesia adalah, porsi lokal kecil sekali. Populasi Indonesia Yang jumbo plus daya belinya cuma dikeruk belaka. Perangkat Yang digunakan rata rata asing, lokal paling kebagian kontruksi dan infrastruktur sipilnya belaka. BUMN vendor telekomunikasi Yang sempat jaya dulu, PT INTI, sekarang bekerja sbg subcont dari vendor asing dari China dan Eropa. Prihatin….Padahal INTI ini dimasa jayanya adalah pembuat Sentral Telepon Digital Yang memonopoli STO Telkom. Dengan kebijakan pemerintah Yang tepat mestinya INTI bisa tetap menjadi pemasok perangkat telekomunikasi bagi operator telekom di Indonesia. Seperti kisah sukses Huawei dan ZTE di China, mereka bisa go global, start up nya jg persis seperti INTI bikin sentral2 kecil dulu. Satu lagi perusahaan produsen perangkat telekomunikasi lokal Yang murni swasta, adalah CMI (Compact Microwave Indonesia) digawangi mantan pegawai INTI Yang menempuh studi di AS, dimasa jayanya CMI membuat Microwave Antenna berbagai model, Up Down Converter utk satellite, pula system Microwave Link sekelas NEC PASOLINK, ERICSSON MINILINK, CERAGON atau DMC bahkan sempat melakukan ekspor ke timur tengah ! Sekarang jadi apa ? para pendirinya Yang sakti2 itu tercerai berai karena CMI tidak lagi mampu bertahan. Saya paham karena skripsi kuliah dulu saya kerjakan di CMI dengan bimbingan salah satu pendirinya.
Dalam hal mendukung kemajuan industri dalam negeri pemerintah China memang luar biasa. Cerita paling baru adalah di industri otomotif, anda tahu Chevrolet Volt, mobil listrik Yang dibanggakan Obama. Chevy berencana menjual Volt di China, dengan populasi 1,6 Milyard dan pertumbuhan ekonomi 2 digit, semua industri otomotif yang masuk ke China untung besar. Apa Yang disyaratkan pemerintah China, Chevrolet harus mau membagi teknologinya pd China !!
Kalo ini dulu dilakukan pemerintah era Soeharto pd INTI dan CMI, kita punya perangkat telekomunikasi made in Indonesia. Ada kebanggaan tersendiri bagi putra putri Indonesia Yang dapat bekerja di perusahaan perusahaan lokal hi tech ini. Yang terjadi sekarang adalah, karena persaingan Yang keras, operator “dipaksa” kreatif dalam membeli. Utk bisa menjual murah, tentu saja harus membeli murah. Maka jayalah semua perusahaan China di Indonesia. Perusahaan Eropa tergeser pelan2. Motorola, sebuah perusahaan AS yang dulu berjaya, sekarang bisnis perangkat telekomunikasi nya mati. Di Indonesia mengandalkan penjualan Digital Trunking untuk Oil, Gas Company, serta tender tender di pemerintah untuk polisi dan TNI.
Dengan harga Yang murah tentu saja mereka harus membeli lebih murah lagi. Disinilah efek berantai sangat terasa 2-3 thn terakhir ini. Harga tenaga kerja, harga jasa ditekan semurah mungkin. Perusahaan China ini bahkan melakukan akrobat luar biasa pd aturan ketenaga kerjaan. Karyawan asing didatangkan dlm jumlah besar yang sebagian diantaranya hanya dengan visa bisnis tanpa ijin kerja yang semestinya, karyawan lokal sebagian besar kontrak tanpa pelatihan memadai dan tanpa harapan permanen, padahal posisi mereka adalah posisi inti dan kunci.
Di bawahnya lagi, para perusahaan baik lokal maupun asing yang mensupply jasa atau material pada perusahaan ini Yang tidak punya banyak pilihan karena sebagian besar kontrak dari operator telekomunikasi jatuh pd produsen perangkat ini, mau tidak mau mengambil pekerjaan dengan harga banting, akrobat yang sama pun harus dilakukan, kalo tidak perusahaan tidak bisa bertahan. Dan seterusnya dan seterusnya. Yang masih bisa bertahan dengan harga yang relatif wajar adalah bisnis telekomunikasi di sisi IT dan value added services. Karena sifatnya yang customizable dan susah utk dijadikan mass scale production, produsen eropa masih amat berperan disini. China adalah negara yang no 1 dalam replikasi, duplikasi dan mass production. Tidak ada negara yang mampu bersaing dengan China dalam hal ini. Begitu sebuah jasa layanan atau produk bisa dibikin massal, cilaka 12 utk negara diluar China.
Masa Depan Bisnis Telekomunikasi Indonesia ???
Entahlah saya juga tidak tau…..yang saya tau adalah menjaga api idealisme itu tetap membara. Berbuat terbaik sepanjang kemampuan saya dalam kegiatan profesional, tidak menggunakan tenaga asing dalam pekerjaan yang saya pimpin, percaya pada kemampuan insinyur dalam negeri sambil tetap berikhtiar dan berusaha, semoga saya diberi kesempatan Yang sedikit lebih besar, supaya saya dapat berbuat sedikit lebih banyak. Kalaupun akhirnya sekarang saya tergabung dalam operator telekomunikasi yang sahamnya dikuasai asing, pilihan nya memang tidak banyak bagi saya, perusahaan operator yang sahamnya dikuasai bangsa sendiri tidak membuka kesempatan saya untuk bergabung.
Tetap semangat (saya berteriak pd diri saya sendiri) !
dikutip dari http://indotelcommunity.com
