bagi adik-adik yg sedang kuliah mari semangat belajar dan semangat mengembangkan diri

Berikut screenshot lulusan jurusan di suatu universitas


kalo ingin memperbesar gambar, tinggal di klik kanan, kemudian open link in new tab





kalo berbisnis juga boleh, yg penting dilakukan dengan jujur dan berusaha membangun negeri

SEMANGAT !!!!


Telkomcel, Anak Usaha Telkom di Timor Leste



PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), yang merupakan anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), resmi beroperasi di Timor Leste, Kamis (17/1/2013). Dengan produk telekomunikasi seluler bernama Telkomcel, mereka optimis dapat meraih pangsa pasar di Bumi Lorosae tersebut.

Telkomcel memberi seluruh layanan seluler di Timor Leste, termasuk voice (panggilan telepon), SMS, data (internet), layanan bernilai tambah (value added service/VAS), dan layanan khusus untuk korporat.

Telkomcel sendiri didirikan pada 17 September 2012. Mereka memperoleh lisensi spektrum radio dari pemerintah Timor Leste pada 22 Oktober 2012 untuk menyediakan layanan seluler di seluruh Distrik di Timor Leste dan jaringan internet 3G.

Selain membangun kantor perwakilan di Dili, Telkomcel juga telah membuka gerai layanan pelanggan (customer service).

Head of Corporate Communication & Affair Telkom Slamet Riyadi mengatakan, saat ini terdapat 21.000 calon pelanggan dari Timor Leste yang telah mendaftarkan dirinya untuk memakai layanan Telkomcel. “Ternyata memang permintaan di sini sangat tinggi,” kata Slamet.

Pada 2018 nanti, Telkomcel menargetkan dapat menggaet 600.000 pelanggan atau sekitar 60 persen dari jumlah penduduk Timor Leste.
sumber: kompas.com



Buka Jaringan di Timor Leste, Telkom Siapkan USD 50 Juta



Telkom melalui anak usahanya Telekom Internasional (Telin) melakukan ekspansi ke Timor Leste. Di bekas provinsi Indonesia tersebut, Telin mengusung nama Telkomcel.

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan yang mewakili pemerintah berharap Telkomcel dapat memberikan layanan terbaiknya di Bumi Lorosae tersebut.

“Kami berterima kasih dapat melayani telekomunikasi di Timor Leste. Kita berharap dalam waktu cepat dapat melayani seluruh pelanggan. Tidak hanya 2G tapi langsung 3G juga disediakan,” kata Dahlan.
Sementara itu, Direktur Telkom Arief Yahya yang turut mendampingi Dahlan mengatakan, pihaknya akan menggelontorkan dana sekitar USD50 juta untuk membangun infrastruktur di Timor Leste.

“USD 50 juta untuk 2 tahun. Saat ini pembangunannya masih di Dili saja. Mudah-mudahan April nanti seluruh Timor Leste sudah kita coverage. Tapi itu belum termasuk membangun WiFi dan segmen bisnis,” kata Arief.

Soal target market share, Arief sangat yakin dapat menguasai separuh lebih pasar di negara termuda tersebut.

“Di Jakarta kita menguasai 60% pangsa pasar. Setidaknya di Timor Leste kita bisa mengusai serupa. Ya, kalau di sini jumlahnya ada 1 juta penduduk. Maka 600 ribu yang kita targetkan,” katanya.
Saat ini, di Timor Leste dibangun 110 BTS untuk mencover hingga 95% wilayah. Saat ini baru 60 BTS yang sudah dibangun.

sumber: detik.com



Lowongan Dosen UI & Laboran dll 2 - 6 Februari 2013



Silakan di klik https://sipeg.ui.ac.id/ng/penerimaan/formasi  untuk mengetahui informasi lebih lanjut

Semoga Sukses

5 Tips Beli Saham IPO



1. Cari riset perusahaan yang objektif

Mencari informasi mengenai perusahaan yang siap go public itu gampang-gampang susah. Tidak seperti mencari info soal perusahaan yang sudah melantai di bursa.

Tidak banyak juga analis yang punya hasil riset mengenai perusahaan tertutup. Sehingga, kelemahan-kelemahan kecil di perusahaan tersebut sulit sekali diketahui.

Semua informasi perusahaan pasti akan dicantumkan dalam prospektus, tapi semuanya ditulis oleh perusahaan itu sendiri, tanpa ada campur tangan pihak lain.

Internet bisa menjadi tempat yang tepat untuk melakukan riset terhadap perusahaan tersebut. Anda bisa mulai mempelajati peta kompetisi, kompetitor, kinerja keuangan dan laporan keuangannya.

Informasi seperti ini bisa saja langka, tapi jangan putus asa dan teruslah mencari info sedalam-dalamnya. Bandingkan hasil yang Anda temukan di internet dengan prospektus IPO perusahaan tersebut. Sehingga Anda bisa merancang strategi investasi yang tepat pada perusahaan itu.

2. Pilih perusahaan dengan penjamin emisi yang kuat

Pilih perusahaan yang memakai jasa penjamin emisi alias underwriter berpengalaman dan terkenal. Bukan berarti perusahaan yang IPO dengan penjamin emisi kecil tidak akan berhasil, tapi dengan underwriter berpengalaman maka peluang keberhasilannya lebih tinggi lagi.

Apalagi, biasanya underwriter besar menangani IPO perusahaan-perusahaan yang besar pula. Jika dihadapkan dengan IPO oleh underwriter kecil, maka sebaiknya Anda lebih berhati-hati dan cari informasi lebih banyak lagi.

Satu hal positif bagi underwriter kecil adalah biasanya harga sahamnya terjangkau dan berpotensi naik dalam beberapa tahun ke depan. Sahamnya juga tersedia cukup banyak bagi investor retail, tidak seperti perusahaan besar.



3. Selalu baca prospektus secara detil

Meski Anda tidak harus percaya 100% terhadap prospektus, tapi jangan sampai informasi yang ada di dalamnya terlewat begitu saja. Salah satu poin penting yang harus Anda perhatikan adalah risiko dan kesempatan di perusahaan tersebut, juga tujuan penggunaan dana hasil IPO.

Contohnya, jika dana hasil IPO akan digunakan untuk bayar utang, maka Anda harus berhati-hati. Sudah menjadi lampu kuning jika perusahaan tidak mampu bayar utang dan malah mengandalkan penjualan saham.

Nah, jika ternyata dananya akan digunakan untuk aksi korporasi lain seperti, riset produk baru, pembangunan pabrik, perluasan penjualan, maka ini perusahaan yang cocok untuk investasi.

Prospektus ringkas biasanya diterbitkan di media massa menjelang IPO. Tapi jika ingin versi lengkapnya Anda bisa meminta langsung kepada underwriter atau broker yang melakukan riset terhadap perusahaan yang bersangkutan.

4. Ekstra hati-hati


Bersikap skeptis sangatlah diperlukan menjelang IPO. Pasalnya, ada banyak risiko dan ketidakpastian dalam berinvestasi di saham perdana, terutama karena minimnya informasi. Anda harus sangat berhati-hati terhadap IPO.

Jangan langsung percaya pada broker Anda saat ia merekomendasikan satu IPO, bersikaplah skeptis dan cari informasi sendiri sebanyak-banyaknya. Bahkan biasanya, broker menyimpan saham IPO yang bagus untuk klien dengan dana cukup banyak, sehingga jika Anda hanyalah investor kecil, maka peluang bisa dapat saham bagus itu lebih kecil.

5. Perhitungkan lock-up period

Periode lock-up adalah kontrak yang mengikat, biasanya tiga sampai 24 bulan, antara underwriter dan salah satu pemilik saham lama di perusahaan yang mau IPO untuk tidak menjual sahamnya beberapa waktu setelah IPO.

Jadi, si pemilik lama tidak bisa menjual saham tersebut bahkan ketika berada di harga yang sangat mahal sekalipun, kecuali masa 'berlakunya' sudah habis. Intinya di sini adalah mempertimbangkan pembelian saham IPO sampai habisnya masa berlaku tersebut.

Pasalnya, jika masa berlaku sudah habis tapi si pemegang saham lama tetap tidak mau melepas sahamnya, maka ada kemungkinan masa depan perusahaan tersebut masih cerah. Pada periode lock-up Anda tidak akan pernah tahu apakah si pemegang saham sudah puas atau malah ingin buru-buru melepas sahamnya.

Tidak ada salahnya bersabar sedikit sampai situasi pasar bisa 'bercerita' mengenai saham yang baru saja IPO tersebut. Perusahaan bagus tetap akan menjadi perusahaan bagus dan layak untuk dijadikan tempat berinvestasi, tidak peduli kapan Anda mulai berinvestasi.

Kesimpulan

Bukan berarti Anda harus menghindari berinvestasi saat ada IPO, karena banyak investor yang sudah meraup untung banyak lewat aksi korporasi ini. Setiap bulan pasti ada perusahaan baru yang masuk lantai bursa, tapi memang sedikit sulit untuk memilih mana yang cocok untuk berinvestasi.

Ingat, ketika Anda dihadapkan satu IPO, investor yang skeptis dan punya banyak informasilah yang akan berhasil.

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI DALAM SISTEM PENDIDIKAN KITA


Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

*

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.


Pidato Pak Habibie di Depan Management Garuda




Ini adalah kisah Pak Habibie merupakan salah satu inspirator saya, salah satu kisah yang semoga bisa menginspirasi untuk bisa menjadi 'besar' di Indonesia. Kisah ini ditulis oleh seorang captain Garuda yang ikut dalam pertemuan tersebut. Berikut cerita yang saya ambil dari sebuah milis.


Capt. Novianto Heruprat

Kantor Manajemen Garuda Indonesia

Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta

12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai "balasan" pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum

kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan...............

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

"Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!" beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata "Dik" kemudian secara lancar beliau melanjutkan................."Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat!

Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara.

Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan 'how to build commercial aircraft' bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan 'teknologi' berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri ..... N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami 'Dutch Roll' (istilah penerbangan untuk pesawat yang 'oleng') berlebihan, teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi 'Fly by Wire' bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri 'apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?'

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya. Dik tahu................di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.............

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Brazil, Canada, Amerika dan Eropa................

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu

semua.....................?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan

menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!"

Pak Habibie menghela nafas.......................

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11.

Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan "track ball atau touch pad" sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.................

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir.............kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya..............

"Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia".

"Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD, - Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten- C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis- D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!"

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb: "Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik.............organisasi itu bekerja saling sinergi
sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik"

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ...........................

"Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba.

Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ...........ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........................"

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam.............................seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................

"Dik, kalian tau.................2 minggu setelah ditinggalkan ibu............suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu....... Ainun.......Ainun...........Ainun ..............saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat 'Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini..............' mereka bilang 'Kita (para dokter) harus tolong Habibie'.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus...............
3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga............................"

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ...................... ia melanjutkan pembicaraannya;

"Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun..............dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.............

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat............. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia"

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata..............................

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya; "Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.....................

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia.

Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing). Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu............semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif..................."

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.


Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,

Capt. Novianto Heruprat